- Hukum & Kriminal

Buntut Ucapan Rasis Edy Mulyadi, Adat Remaong Kutai Tentukan Sikap

up2date.id, BANJARMASIN- Menyusul sikap tegas DPD Gerinda Sulawesi Utara (Sulut) dengan melaporkan Edy Mulyadi atas dugaan penghinaan terhadap Menhan Prabowo Subianto, Perkumpulan Adat Remeong Kutai Berjaya juga menentukan sikap.

Ucapan bernada rasis dari seorang wartawan senior yang selama ini diketahui sebagai kader PKS itu, akan diputuskan Perkumpulan Adat Remeong Kutai Berjaya dalam rapat Selasa (25/1) mendatang.

Sebagaimana undangan yang diterima redaksi up2date.id, Ahad (23/1), rapat yang akan digelar di salah satu caffe di Jl Juanda, Kota Balikpapan, mulai pukul 14:30 Wita, mengundang pimpinan atau perwakilan ormas, perkumpulan adat, laskar, forum dan paguyuban yang ada di Kalimantan Timur.

Seperti diketahui, terusiknya Perkumpulan Adat Remeong Kutai Berjaya ini berkaitan dengan tudingan pegiat sosial media itu, Kalimantan tempat jin buang anak.

Baca Juga: Sulut Laporkan Edy Mulyadi, Kalimantan Kapan?

Diduga statement yang dikeluarkan Edy Mulyadi ini berkaitan dengan rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) baru yang sudah ditetapkan pemerintah dan DPR RI di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sebelumnya, Edy memang sedang membicarakan terkait pengembang di proyek ibu kota baru. Menurutnya, pengembang di sana dikuasai asing.

“Jadi pertanyaannya coba, 1, yang ngebangun perumahan siapa? Nggak mungkin pengembang-pengembang itu. Jadi yang membangun adalah pengembang-pengembang asing. Dari mana? Purwokerto, Banyumas? Dari Cina, Bos. Pengembang-pengembang China yang melakukan pembangunan di sana. Mereka nggak masalah rugi, kosong, nggak masalah, karena pasti ada penduduk yang dikirim ke sana, siapa? Warga RRC tinggal di sana,” kata Edy dengan nada tinggi.

Sedang tudingan Edy Mulyadi dalam video yang sama telah menghina rakyat Kalimantan. Menurutnya, orang-orang tidak akan mau membangun di Kalimantan, karena pasar di Kalimantan hanya genderuwo dan kuntilanak. Bahkan ditimpali dengan ucapan monyet di antara peserta bersongkok yang hadir.

Seperti diketahui, Edy Mulyadi pernah mencalonkan diri sebagai caleg dari PKS untuk Dapil Jakarta III. Namun gagal.

Lahir di Jakarta, 8 Agustus 1966, memulai kiprah sebagai wartawan pada 1991 di Neraca. Dia juga disebut pernah berkarir di beberapa media, seperti Media Indonesia, Metro TV, TPI sampai Warta Ekonomi. (yob/foto: ist)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *