- Nasional

Keberanian Jokowi ke Ukraina dan Rusia Dipuji Bamsoet

up2date.id, JAKARTA- Langkah Presiden Joko Widodo ke Kota Kyiv menemui Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, untuk mendamaikan negera tersebut dari perang, dipuji Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo.

Usai dari Ibu Kota Ukraina itu, Presiden Jokowi pun melanjutkan perjalanan ke Kota Moskow, Rusia, untuk menemui Presiden Putin, juga dengan misi yang sama.

Menurut Bamsoet, sapaan familiar Bambang Soesatyo, upaya perdamaian ini menjadikan Presiden Jokowi sebagai  pemimpin Negara Asia pertama yang mengunjungi kedua negara pasca Rusia melancarkan ‘opera khusus’ ke Ukraina, 24 Februari lalu.

Baca Juga: Mulai Misi Perdamaian, Presiden Jokowi ke Kyiv

“Padahal untuk mencapai Ukraina, presiden harus menempuh perjalanan dengan waktu tempuh mencapai 12 jam menggunakan kereta api dari Polandia. Sebuah perjalanan luar biasa ,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu, Rabu (29/6).

Apa yang dilakukan ini, sambung Bamsoet, telah menunjukan besarnya kesungguhan hati Presiden Jokowi membawa misi perdamaian. Sekaligus menjalankan amanat konstitusi UUD 1945, dalam rangka ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dijelasksn Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM dan Keamanan ini, sebagai pemimpin G-20, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo punya peran strategis untuk meredakan ketegangan yang terjadi antara kedua negara.

Karena itu, langkah presiden mengunjungi Ukraina dan Rusia, juga telah merawat tradisi para pemimpin Indonesia yang selalu concern dalam menjaga perdamaian dunia.

Indonesia, menurut Bamsoet, telah memiliki pengalaman panjang sejak era Presiden Soekarno dalam mewujudkan perdamaian dunia. Salah satunya, melalui Konferensi Asia Afrika pada 1955 yang menghasilkan Gerakan Non Blok.

Baca Juga: Bismillah, Tiba di Polandia Jokowi ke Ukraina

“Apa yang dilakukan Presiden Soekarno waktu itu, menentang berbagai tindakan imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme, apartheid, rasisme, segala bentuk agresi militer, pendudukan, dominasi, interferensi atau hegemoni dan menentang segala bentuk blok politik,” beber Bamsoet.

Begitupun pada 1995, lanjut Bamsoet, Presiden Soeharto juga pernah mengunjungi Bosnia-Herzegovina untuk mendamaikan kondisi disana yang saat itu berada dalam situasi perang.

Bahkan Presiden Megawati, dipercaya pemerintah Korea Selatan menjadi tokoh penting dunia yang mampu membawa perdamaian antara Korea Selatan dengan Korea Utara.

“Kini melalui Presiden Joko Widodo, kita berharap Indonesia bisa berperan besar mendamaikan ketegangan antara Rusia dengan Ukraina. Tidak hanya demi rakyat di kedua negara tersebut, melainkan juga demi rakyat dunia yang juga terkena imbas dari konflik yang terjadi,” ucap Bamsoet

Karena ke depannya, imbuh Bamsoet,  pasca pandemi Covid-19 dunia menghadapi tantangan yang sangat berat. Baik pada ketahanan pangan, ketahanan energi, maupun stabilitas keuangan.

“Oleh sebab itu untuk mengatasinya, perlu kerja sama dari berbagai negara dunia agar saling bergandengan tangan. Bukan  justru saling berseberangan,” pungkasnya. (yob/foto: dok)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *