BATULICIN, Up2date.id – Upaya memperkaya bahan bacaan anak dengan konten kekhasan daerah terus dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tanah Bumbu. Dalam waktu dekat, Dispersip akan merilis dua buku cerita anak bermuatan lokal Bumi Bersujud yang diharapkan menjadi sumber bacaan edukatif sekaligus sarana mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.
Kepala Dispersip Tanah Bumbu, Yulia Rahmadani, mengatakan, penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan koleksi bahan bacaan yang memiliki identitas dan kekhasan daerah. Kehadiran buku cerita anak lokal diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi sekaligus menumbuhkan minat baca anak-anak.
Menurutnya, Tanah Bumbu memiliki kekayaan cerita, legenda, tradisi, nilai budaya, dan kearifan lokal yang selama ini banyak diwariskan secara lisan. Kekayaan tersebut perlu didokumentasikan dan dikemas dalam bentuk bacaan yang menarik agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Melalui buku cerita bermuatan lokal, anak-anak dapat mengenal lebih dekat daerah tempat mereka tumbuh. Mereka bisa belajar tentang cerita dan nilai-nilai budaya daerah dengan cara yang menyenangkan, melalui kisah yang dekat dengan dunia mereka,” ungkap Yulia saat ditemui di ruang kerjanya.
Ia berharap, buku-buku tersebut tidak hanya menjadi koleksi perpustakaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh keluarga, sekolah, komunitas literasi, dan masyarakat luas sebagai bahan bacaan maupun sumber pembelajaran.
Dua seri buku cerita anak, seri warisan budaya dan seri persahabatan, kini sudah dapat dinikmati di perpustakaan umum daerah.
Buku cerita anak tersebut ditulis oleh Tim Folklore dari Komunitas Pegiat Gambar (Kopiambar) Bacarita. Komunitas ini dikenal konsisten menghadirkan karya-karya literasi yang mengangkat kekayaan lokal Tanah Bumbu.

Sebelumnya, Tim Folklore Kopiambar Bacarita telah menghasilkan sejumlah karya, di antaranya Cerita Rakyat Tanah Bumbu dan Pigura Tanah Bumbu. Selain itu, tim ini juga produktif menerbitkan berbagai kumpulan tulisan berupa artikel opini, cerita pendek, dan feature yang mengangkat beragam potensi serta dinamika daerah.
Dua penulis yang terlibat dalam penerbitan buku cerita anak ini adalah Ngatmiyatum dan Fauzi Rohmah. Sementara proses penyuntingan dilakukan oleh Musdalipah, widyabahasa sekaligus penulis cerita anak dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan. Ketua tim Muzakkir Munzir, tim riset Fitrah Agma Putri dan perwajahan dan desain oleh Ari Robi Rusadi.
Yulia memberikan apresiasi kepada Tim Folklore Kopiambar Bacarita atas konsistensinya dalam menghadirkan bahan bacaan bermuatan lokal. Menurutnya, upaya tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi yang tidak hanya mendorong masyarakat gemar membaca, tetapi juga menjadikan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat sebagai sumber bacaan.
“Kami berharap anak-anak Tanah Bumbu kelak tidak hanya tumbuh sebagai pembaca, tetapi juga menjadi pencipta karya dan pencerita yang mampu memperkenalkan kekayaan daerahnya kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Penerbitan dua buku cerita anak ini sekaligus memperlihatkan bahwa gerakan literasi dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Melalui cerita yang ditulis, dibaca, dan dinikmati anak-anak, kekayaan tradisi serta ingatan kolektif masyarakat Tanah Bumbu diharapkan tetap hidup dan tidak hilang ditelan perubahan zaman. (uza/foto Bzak)








