Up2date.id, BATULICIN – Antusiasme masyarakat terhadap tiga film animasi cerita rakyat Bumi Bersujud yang diproduksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tanah Bumbu bersama Lembaga Literasi Berinklusi Sosial Komunitas Pegiat Gambar (Kopiambar) Bacarita, Selasa (22/9), ternyata melampaui perkiraan panitia.
Sehari sebelum film diputar, pendaftaran peserta bahkan harus ditutup karena kuota telah terpenuhi. Tingginya minat tersebut terlihat langsung saat kegiatan nonton bareng digelar di Studio Mini lantai II Kantor Layanan Umum Dispersip Kabupaten Tanah Bumbu.
Puluhan pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan aktivis literasi memadati ruangan. Kapasitas studio yang terbatas membuat sebagian peserta harus duduk di lantai, sementara lainnya berdiri di bagian belakang ruangan demi bisa menyaksikan langsung tiga film yang mengangkat cerita rakyat daerah tersebut.
Kondisi itu justru memperlihatkan besarnya rasa ingin tahu masyarakat terhadap cerita lokal yang dikemas dalam bentuk animasi.
Tiga film yang ditayangkan masing-masing mengangkat cerita Gua Liang Bangkai, Sumur Air Tawar di Kubah Pagatan, dan Legenda Pulau Sewangi. Ketiganya diadaptasi dari buku Cerita Rakyat Bumi Bersujud yang disusun Tim Folklore pada 2025.
Suasana semakin hidup ketika pemutaran film dilanjutkan dengan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak, tetapi aktif menyampaikan tanggapan, pertanyaan, dan apresiasi terhadap karya tersebut. Pada sesi duskusi Pokdarwis Gua Liang Bangkai juga dihadirkan.
Salah seorang pegiat literasi yang hadir, Muklis, mengapresiasi kreativitas mengemas cerita rakyat Tanah Bumbu dalam medium animasi.
Menurutnya, visualisasi yang ditampilkan dalam film tersebut mampu membuat cerita lokal terasa lebih dekat dan menarik untuk disaksikan, terutama oleh generasi muda.
“Visualisasinya sangat keren dan memukau. Meskipun dibuat menggunakan piranti kecerdasan buatan, hasilnya tetap menarik dan mampu menghidupkan cerita rakyat yang selama ini kita kenal,” ujarnya.
Menurut Muklis, penggunaan teknologi dalam produksi film justru menunjukkan bahwa cerita rakyat lokal dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan identitas dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Apresiasi serupa disampaikan aktivis Batulicin Community Center (BCC), Asmi. Ia menilai film yang mengangkat legenda lokal tersebut memiliki nilai penting karena memperkenalkan kembali kekayaan cerita daerah kepada masyarakat Tanah Bumbu.
“Film seperti ini patut menjadi kebanggaan masyarakat Tanah Bumbu. Kita memiliki banyak cerita rakyat yang menarik, dan ketika divisualisasikan seperti ini, masyarakat, khususnya generasi muda, bisa lebih mengenal cerita daerahnya,” katanya.
Cerita Lama, Medium Baru
Tingginya antusiasme penonton menjadi gambaran bahwa cerita rakyat lokal masih memiliki ruang di tengah masyarakat ketika disajikan dengan medium yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Kepala Dispersip Kabupaten Tanah Bumbu, Yulia Rahmadhani, mengatakan penggarapan film animasi tersebut merupakan salah satu upaya menjaga keberadaan sastra lisan dan cerita rakyat daerah agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, transformasi cerita rakyat ke dalam bentuk audio visual diharapkan dapat membuat pesan sejarah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya lebih mudah diterima masyarakat.
Film tersebut digarap bersama Bias Studio Banjarbaru dengan melibatkan penulis skrip Bastari Bayu, salah satu tokoh perfilman di Kalimantan Selatan. Proses produksinya berlangsung hampir enam bulan.
Art Producer film, Muzakkir Munzir, menjelaskan bahwa meskipun proses produksi memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, penggarapan tetap dilakukan secara serius, mulai dari pengembangan alur cerita, karakter hingga visualisasi.
Antusiasme yang terlihat dalam pemutaran perdana tersebut menjadi sinyal bahwa upaya mempertemukan cerita rakyat dengan teknologi digital mendapat respons positif dari masyarakat.
Bagi para pegiat literasi yang hadir, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda nonton bareng. Film animasi menjadi pintu masuk untuk kembali membicarakan kekayaan sejarah, budaya, dan cerita rakyat Tanah Bumbu dalam perspektif yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Ke depan, kesempatan menonton film tersebut akan kembali dibuka. Selain melalui kegiatan nonton bareng, ketiga film animasi itu juga direncanakan dapat diakses masyarakat melalui platform digital.
Dengan demikian, Gua Liang Bangkai, Sumur Air Tawar di Kubah Pagatan, dan Legenda Pulau Sewangi tidak hanya menjadi cerita yang tersimpan dalam buku, tetapi juga hadir dalam bentuk visual yang dapat ditonton dan diperbincangkan oleh generasi baru.
Film ini masi ini akan menjadi bahan diskusi dan kajian dalam lingkup pendidikan. Film ini juga diharapkan dapan menjadi media pembelajaran di sekolah-sekolah. Untuk mengakses filem ini, dapat melihat di laman channel youtube Dispersip. (uza/foto: ist)










