up2date.id, JAKARTA- Para orangtua diingatkan untuk tidak meremehkan risiko paparan Covid-19 varian Omicron pada anak-anak. Sebab meski gejalanya ringan, anak-anak tak terlepas dari risiko gejala berat dan komplikasi jika terpapar.
Wanti-wanti disampaikan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, dalam konferensi pers virtual, Rabu (9/2). Pasalnya, sejak akhir Januari hingga pekan pertama Februari 2022, jumlah kasus Covid-19 pada anak di Indonesia tercatat sudah mencapai 10 kali lipat.
“Data yang penambahannya, per 24 Januari itu 676 terkonfirmasi. Per 31 Januari meningkat menjadi 2.775 kasus. Per 7 Februari, meningkat menjadi 7.990. Artinya, naiknya 300 persen laporan dari teman-teman di cabang,” jelasnya.
Baca Juga; Korban Meninggal Akibat Omicron 69 Persen Belum Divaksin Lengkap
“Kenaikannya naik menjadi 300 persen dari sebelumnya ya. Kalau dibanding Januari 676 menjadi 7.990, berarti udah 1.000 persen lebih, 10 kali lipat lebih kalau dari Januari,” lanjutnya.
Sebagian besar anak yang terinfeksi varian Omicron, sambung Piprim Basarah, memang mengalami gejala ringan, seperti batuk-pilek dan badan demam ringan (hangat) layaknya flu biasa, atau nyeri tenggorokan. Akan tetapi, anak-anak sebagai salah satu kelompok rentan tak bebas dari risiko perburukan gejala dan munculnya komplikasi pasca Covid-19.
“Dampak Omicron pada anak sebagian besarnya adalah ringan, gejalanya ringan. Namun ini tidak boleh mengelakkan kita, karena saya sendiri pernah menemukan pasien dengan kontraktilitas jantung,” terangnya.
“Ada beberapa laporan, pasien menjadi menderita diabetes pasca terkena Covid. Memang kejadiannya tidak banyak, tetapi tetap saja kita waspada dan yang paling penting, mencegah supaya anak tidak terkena Omicron,” katanya mengingatkan. (yob/ilust: ist)








