- Daerah

Dispersip Latih Pemuda Tanbu Jual Foto di Platform Digital

Up2date.id, BATULICIN – Kamera di tangan pemuda Tanah Bumbu tak lagi sekadar menjadi alat untuk mengabadikan momen. Melalui Workshop Fotografi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) kabupaten setempat, peserta dilatih mengolah karya foto hingga memasarkannya di berbagai platform digital sebagai peluang mendapatkan penghasilan.

Workshop yang berlangsung Selasa (11/8) tersebut diikuti puluhan peserta dengan antusias. Kegiatan berlangsung di Rei Beach Cafe, Batulicin. Pemilihan lokasi bukan tanpa alasan. Suasana alam dan panorama sungai dinilai mendukung peserta untuk langsung mempraktikkan teknik pengambilan gambar.

Kegiatan ini merupakan program Dispersip Tanah Bumbu yang bekerja sama dengan Lembaga Literasi Berinklusi Sosial Komunitas Pegiat Gambar (Kopiambar) Bacarita.

Berbeda dengan pelatihan fotografi yang hanya berfokus pada teknik pengambilan gambar, workshop ini juga membuka wawasan peserta mengenai bagaimana karya fotografi dapat memiliki nilai ekonomi.

Fotografer Barito Post, Iman Satria, menjadi salah satu narasumber yang memberikan pembekalan tersebut. Ia memperkenalkan kepada peserta berbagai peluang untuk memonetisasi karya fotografi dengan memasarkannya melalui platform digital.

Materi yang disampaikan Iman berlangsung interaktif. Peserta aktif berdiskusi mengenai jenis foto yang memiliki peluang untuk dijual, cara menghasilkan karya yang menarik, hingga bagaimana memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar.

Antusiasme peserta terlihat ketika pembahasan mulai mengarah pada peluang fotografi sebagai sumber pendapatan. Sejumlah peserta tampak tertarik untuk mengembangkan kemampuan fotografi yang mereka miliki agar tidak berhenti sebagai hobi.

Selain Iman Satria, workshop juga menghadirkan fotografer Diskominfo Provinsi Kalimantan Selatan, Mahfud. Ia membagikan pengalaman dan pengetahuannya mengenai storytelling photography atau fotografi bercerita.

Mahfud mengajak peserta memahami foto yang baik bukan hanya soal ketepatan teknis maupun keindahan visual. Sebuah foto juga harus mampu menyampaikan pesan dan membangun cerita kepada orang yang melihatnya.

“Foto harus mampu bercerita. Ketika sebuah foto memiliki cerita, orang yang melihatnya tidak hanya menikmati gambar, tetapi juga dapat merasakan pesan yang ingin disampaikan,” menjadi pokok pembelajaran dalam materi tersebut.

Sementara itu, penyusun buku fotografi, Muzakkir Munzir, berbagi pengalaman melalui materi travelling photography. Ia menceritakan proses menghasilkan berbagai karya foto selama perjalanan serta bagaimana menemukan dan mengolah objek sederhana menjadi sebuah karya visual yang menarik.

Materi tersebut sekaligus mengajak peserta melihat lingkungan sekitar sebagai sumber ide fotografi. Perjalanan, aktivitas masyarakat, panorama alam, hingga berbagai peristiwa sehari-hari dapat menjadi objek yang memiliki nilai cerita apabila diabadikan dengan pendekatan yang tepat.

Suasana workshop semakin hidup karena peserta tidak hanya duduk mendengarkan materi. Mereka juga diberi kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, dan mempraktikkan langsung teknik fotografi di lingkungan sekitar lokasi kegiatan.

Pemilihan Rei Beach Cafe sebagai lokasi workshop memberikan keuntungan tersendiri. Berada di tepian Sungai Batulicin dengan panorama alam yang terbuka, peserta dapat langsung mengeksplorasi objek fotografi sekaligus belajar melihat sudut pandang yang berbeda dalam menghasilkan gambar.

Tingginya antusiasme bahkan membuat kegiatan berlangsung melampaui waktu yang telah dijadwalkan. Meski waktu pelatihan telah berakhir, peserta masih terlihat antusias berdiskusi dengan para narasumber.

Kepala Dispersip Kabupaten Tanah Bumbu, Yulia Rahmadani, mengapresiasi antusiasme peserta dalam mengikuti workshop tersebut.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi peserta melalui konsep transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

“Semoga kegiatan ini benar-benar memberikan dampak inklusi sosial bagi peserta,” ujar Yulia saat membuka workshop secara resmi.

Yulia juga meminta dukungan peserta agar berbagai program yang dijalankan Dispersip bersama komunitas literasi, terutama Kopiambar Bacarita, dapat terus memberikan dampak terhadap peningkatan literasi masyarakat.

Menurutnya, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca dan mencari buku, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar masyarakat untuk mengembangkan keterampilan yang produktif dan memiliki nilai ekonomi.

“Sehingga transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Kabupaten Bersujud dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” tandasnya.

Workshop fotografi tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana literasi dikembangkan dalam bentuk yang lebih luas. Peserta tidak hanya diajak memahami fotografi sebagai seni visual, tetapi juga diarahkan untuk melihat peluang ekonomi dari karya yang mereka hasilkan.

Dengan bekal teknik fotografi, kemampuan bercerita melalui gambar, pengalaman fotografi perjalanan, serta pengetahuan mengenai pemasaran karya di platform digital, para pemuda Tanah Bumbu diharapkan mampu mengembangkan fotografi menjadi keterampilan kreatif yang bernilai dan produktif.

Dispersip dan Kopiambar Bacarita juga menyelenggarakan workshop desain grafis di hari Rabu (12/8). Kegiatan berlangsung di Studio Mini lantai II Kantor Layanan Umun Dispersip. (uza/foto: zak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *