Akhmad Lazuardi Saragih, (Pegiat Jurnalisme, Penyuka Musik, Alumni FISIP Universitas Lambung Mangkurat)
LETAK GEOGRAFIS NEGARA INDONESIA di pelopok mata dunia selalu silau di cakrawala dunia. Negara yang begitu besar ini merupakan salah satu negara yang diikat oleh sabuk khatulistiwa. Apa itu ‘khatulistiwa’?
Dilansir dari Encyclopedia Britannica, garis khatulistiwa adalah garis imajiner di permukaan bumi yang tegak lurus terhadap poros bumi. Garis khatulistiwa membagi dua bumi menjadi belahan bumi utara dan belahan bumi Selatan, dengan ukuran yang sama.
Pada pengertian lainnya. Garis khatulistiwa atau juga biasa disebut garis ekuator. Kamus BesarBahasa Indonesia (KBBI), memaknai khatulistiwa adalah; garis khayal keliling bumi yang terletak melintang pada nol derajat dan membagi bumi menjadi dua belahan yang sama, yaitu bumi belahan utara dan bumi belahan selatan.
Garis khatulistiwa adalah garis lintang dengan nilai 0 (nol) derajat yang membagi bumi menjadibagian bumi utara dan selatan. Lantas, apa hubungannya dengan negara indonesia? Apa hubunganya pula dengan judul opini: Negarawan di Langit Nusantara. Mari sejenak kita berkhidmat dan berdendang pada lirik lagu dengan judul: ‘Berita Kepada Kawan’:
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita…
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita…
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…
Judul lagu “Berita Kepada Kawan” di tulis Ebiet pada tahun 1979. Beliau terinspirasi saatIndonesia mengalami musibah bencana alam letusan Kawah Sinila di Pegunungan Dieng pada tanggal 20 Februari 1979. Di kala itu, letusan kawah cukup kuat dan menyemburkan material padat. Akibat bencana itu pula menimbulkan paparan gas beracun. Tak Cuma itu saja, gempa bumi kuat juga dirasakan warga akibat letusan tersebut.
***
Mungkin Tuhan mulai bosan dengan tingkah kita? Siapa kita? Kita adalah kita! Kita adalah warga negara Indonesia, yang hingga detik ini berpijak di bumi nusantara. Indonesia adalah negara yang kaya raya. Tak mungkin para antek asing dan para negara-negara di belahan dunia lain menjajah Indonesia ratusan tahun lamanya, kalau Indonesia tidak kaya raya.
Sejak dulu kita diajarkan para guru-guru kita tentang Indonesia. Contah saja, penulis pernah mengenyam Pendidikan di taman kanak-kanak (TK). Di sekolah dasar pun, penulis juga mendapatkan ilmu pengetahuan tentang keindonesiaan.
Penulis masih ingat betul dengan sesosok guru tauladan yang mengajarkan tentang keistimewaan negara Indonesia. Saat duduk di bangku sekolah dasar, sosok guru tauladan penulis menceritakan tentang makna di balik pepatah “Bagaikan Zamrud di Khatulistiwa”. Dengan nada yang begitu serius, sang guru mengisahkan tentang peradaban Indonesia dilihat dari sisi letak geografis negara
Indonesia yang begitu strategis di persimpangan benua Asia dan Australia.
Disisi lainnya, sang guru tauladan juga menceritakan, tentang keberadaan Indonesia. Indonesia, menurut pengamatan beliau adalah sebagai negara agraris dan maritim. Dari sisi kebudayaan, beliau juga menceritakan tentang keberagaman masyarakat Indonesia baik itu suku, agama ras dan kepercayaan.
“Wahai anak-ku Lazuardi, walau pun kamu masih duduk di bangku sekolah dasar, kelak nanti kamu bakal tahu bagaimana negara Indonesia ini penuh dengan keragaman dan keberagamaan” tutur sang guru tauladan.
Saat itu penulis sedang mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Muhammadiyah (SDM) V di Komplek Pendidikan Muhammadiyah, di bilangan jalan Karel Satsuit Tubun, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Guru tauladan penulis itu, ingin menghadirkan suasana belajar yang penuh khidmat sembari mengisahkan setapak demi setapak perjalanan bangsa Indonesia dari berbagai sisi. Atas segala hal yang dimiliki ingatan penulis, sekali lagi penulis ingin ucapkan, semoga beliau tenang disisi-Nya.
Sekali lagi, penulis tak pernah henti-hentinya selalu mendoakan sang guru tauladan tersebut.
Semoga arwah beliau ditempatkan di surga yang terindah disisi-Nya.
***
Indoensia hari ini dan kedepan nanti telah menyongsong fajar harapan. Tentunya kita tak mau fajar harapan itu mengalami kemunduran, apalagi menyebabkan terbitnya matahari dari ufuk barat.
Mari hentikan pelbagai kemelut yang berkepanjangan di pentas politik tanah air.
Adalah kehormatan bagi seorang anak negeri, jika didukung dengan para pemimpinnya serta didukung para kaum intelektualnya, menghadirkan ‘indonesia baru’ dengan meraih predikat negara yang menghargai satu sama dengan daya dukung berfalsafahkan pancasila serta konstitusi negara.
Sedikit orang yang mampu menyandang prediket seorang negarawan. Sedikit pula seorangnegarawan yang mendapatkan gelar negarawan sejati. Dada seorang negarawan sejati, tak pernah berhenti bernafas mendedikasikan diri dan jiwa raganya kepada nusa dan bangsa.
Saat ini, kita sudah dihadapkan pada persoalan bangsa yang jauh lebih besar daripada sekadar pemilu dan pentas demokrasi lainnya. Ini bukan soal siapa yang harus diusung dan bagi-bagi
jabatan. Ini soal perjalanan bangsa yang harus kita utamakan.
Pemilu hanyalah pernak-pernik keindahan dari pelangi demokrasi. Saatnya kita akhiri dengan indah dengan penuh khidmat. Ini tentang menjaga wibawa dan marwah demokrasi yang kita junjung.
Kita harus pastikan, pesta rakyat demokrasi pemilu 2024 menjadi momentum penting bagi sejarah perjalanan bangsa ini kedepan. Kita juga harus pastikan stabilitas negara dan marwah konstitusi yang berfalsafahkan pancasila terjaga harkat, martabat dan kehormatannya.
Kita butuh banyak teladan dari lahirnya seorang negarawan sejati. Kita tak ingin negara ini, hanya karena perbedaan pandangan politik menjadi negara dan bangsa yang tertinggal dan terpecah belah. Sekali lagi, kita membutuhkan negarawan yang lahir dari anak-anak negeri Indonesia.
Penulis bukanlah seorang negarawan, apalagi menyandang negarawan sejati. Tapi bagi penulis, untuk mengibarkan semangat gelora ideologi pancasila tidak mustahil penulis lakukan. Tak mustahil pula penulis berperan untuk mendedikasikan diri menjadi seorang penjaga dan pengawal demokrasi, bukan sekadar penjaga palang pintu partai politik.
Kita tunggu kerelaan negarawan sejati yang bertabur di seluruh pelosok nusantara Indonesia. Kita tidak menginginkan dan pastinya tidak mau negara ini terpecah belah atas keterasingan rakyatnya yang tak peduli terhadap proses berdemokrasi dengan berfalsafahkan pancasila.
Penulis tak sedikit pun rela negara Indonesia terdistorsi oleh keadaan karut marutnya negara dalam mengelola tata pemerintahan dan tatanan demokrasi. Dan, penulis berani untuk mendedikasikan diri dalam mengawal bangsa ini agar bermakna; Gemah Ripah Loh Jinawi.
Sekali lagi penulis berharap, mari kita jaga keutuhan bangsa dan negara ini di atas segala-galanya. Kita tidak rela sedikit jengkal tanah pun, kesuburan, kemakmuran dan ketentraman nusantara ini terusik oleh bangsa-bangsa asing dan antek-antek asing, yang ingin berupaya memecah belah kedaulatan Negara Kesatuaan Republik Indonesia (NKRI).
Sepanjang hayat masih dikandung badan, kita harus berani mati menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Kita angkat topi atas lahirnya negarawan sejati melalui pesta rakyat demokrasi pemilu.
Dan, kita harus akhiri pesta demokrasi ini untuk menatap masa depan bangsa kita yang masih tertinggal jauh dari negara-negara diluar sana.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah, demikian adanya. Negara ini telah melahirkan negarawan sejati. Penulis ingin mendedikasikan kepada yang terhormat presiden pertama Indonesia; Presiden Soekarno. Selanjutnya, Presiden Soeharto, Presiden BJ. Habibie, Presiden Abdurahman Wahid, Presiden Megawati Soekarno Putri, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo, Presiden Terpilih; Prabowo Subianto.
Deretan para pemimpin bangsa Indonesia tersebut merupakan salah satu putra-putri terbaik bangsa, dan penulis ingin simpulkan beliau-beliau tersebut merupakan seorang negarawan sejati yang telah menunjukkan kepemimpinan yang kuat dengan penuh kebijaksanaan serta komitmen yang tak pernah tergoyahkan terhadap perjalanan bangsa ini.
Beliau-beliau tersebut bukanlah seorang mantan. Tak ada kata mantan bagi seorang pejuang negarawan sejati. Perjalanan para presiden tersebut merupakan perjalanan panjang dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan negara kesatuan republik Indonesia. Mereka telah memimpin negara melalui masa-masa sulit memperjuangkan hak-hak perempuan dan keadilan sosial serta membangun stabilitas politik dan keamanan di atas kepentingan nasional.
Kita berdoa dan berharap kepada Tuhan, untuk membukakan pintu maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, terkhusus bagi para pejuang-pejuang kemerdekaan. Tuhan yang maha Pengasih dan Pentayang, kami ingin bermunajat di pangkuan-Mu, mohon berkenannya kiranya kami sebagai anak negeri, diberikan kekuatan lahir-bathin agar kami dapat melanjutkan perjalanan bangsa Indonesia ini untuk menatap masa depan yang gemilang.
Kami pula bermunajat disisi-Mu, berharap Engkau memberikan pengampunan kepada para pahlawan dan para pemimpin kami, tanpa mereka, kami tak mampu berdiri di kaki kami sendiri, di atas langit nusantara.
Para pejuang dan para pemimpin kami telah berjuang tanpa lelah dan letih, atas jasanya yang begitu luar biasa memerdekakan bangsa dan negeri ini. Atas jasanya pulalah bangsa yang besar ini, dapat berdaulat seperti yang saat ini kami rasakan.
Mari kita berupaya sekuat tenaga dan pikiran dengan kekuatan jiwa dan raga untuk melahirkan para negarawan sejati di berbagai pelosok belahan bumi nusantara Indonesia. Apapun profesinya, baik itu petani, nelayan, teknokrat, pedagang kaki lima ataupun satuan penjaga keamanan dengan segala bidang keahlian yang dimilikinya, mari kita teruskan perjuangan bangsa ini sampai titik darah penghabisan.
Selamat berkarya anak negeri Indonesia. Selamat datang para negarawan. Saatnya Indonesia
mendunia! Semoga








