up2date.id, JAKARTA- Seiring dengan dicabutnya Harga Eceran Tertinggi (HET), Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan minyak goreng kemasan akan tersedia di pasaran. Pasalnya, tidak ada lagi gap harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) antara di dalam dan luar negeri.
Menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Oke Nurwan, mahalnya minyak goreng karena melonjaknya harga CPO akibat konflik Rusia-Ukraina.
Dengan adanya HET, ditengarai ada yang menahan atau menimbun untuk menjual di dalam negeri sampai terjadi kelangkaan. Sehingga harganya pun se langit.
“Sekarang itu pada dasarnya gapnya tambah tinggi gara-gara perang Rusia-Ukraina. Jadi kalau gap tambah tinggi, banyak yang memanfaatkan tetap untuk ekspor atau menahan (untuk dalam negeri),” kata Oke, sebagaimana dilansir dari detik.com, Kamis (17/3).
Dengan HET minyak goreng kemasan dicabut dan menyesuaikan harga keekonomian atau mengikuti harga di pasar, dengan sendirinya ketersediaan pasokan akan lancar.
“(Menahan itu berarti memang ada?) Keluar tuh semua. Keluar semuakan (minyak goreng kemasan). Coba lihat sendiri, mal-mal penuh, begitupun ritel modern,” katanya.
Jika minyak goreng kemasan masih kosong, sambung Oke, itu karena menunggu kepastian HET dicabut.
“Kemarin itu mereka nunggu kepastian, bener nggak HET dicabut. Kalau dikeluarin rugi, gitu kan? Ya ngga? Bayangin,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, harga minyak goreng kemasan disesuaikan dengan keekonomiannya. Dengan kata lain, harga minyak goreng kemasan menyesuaikan harga pasar.
“Harga minyak goreng kemasan lain ini, tentu akan menyesuaikan terhadap nilai daripada keekonomian. Sehingga kita berharap, dengan nilai keekonomian tersebut minyak sawit akan tersedia di pasar modern maupun di pasar tradisional,” kata Airlangga dalam konferensi pers virtual, Selasa (15/3). (yob/foto: ist)








