up2date.id, JAKARTA- Indonesia akan menghadapi gelompang varian Omicron, mengingat pada banyak negara yang peningkatan kasusnya lebih cepat dari Covid-19 varian Delta. Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak panik.
“Kembali lagi kita akan menghadapi gelombang dari Omicron, tetapi tidak usah panik. Persiapkan diri dengan baik, jaga prokes, disiplin surveilans-nya dan percepat vaksinasi bagi yang belum,” kata Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers, Senin (10/1).
Memang kenaikan transmisi Omicron, lanjut menkes, jauh lebih tinggi dari Delta. Karena itu strategi Kemenkes RI akan digeser, yang tadinya ke rumah sakit kini fokusnya ke rumah. Sehingga tidak banyak orang yang ke rumah sakit.
“Pengalaman menunjukkan, walaupun naiknya cepat, tapi gelombang Omicron ini juga turunnya cepat,” jelas menkes.
Baca Juga: Omicron Jakarta Sudah 300
Ditegaskan menkes, kasus Omicron di Indonesia sebagian besar disumbang pelaku perjalanan luar negeri. Karena itu diminta warga untuk menahan diri melakukan perjalanan internasional jika tak ada kebutuhan mendesak.
Hingga kini, gejala pasien Omicron yang dilaporkan tercatat 414 kasus dengan dua pasien yang mengeluhkan gejala sedang atau membutuhan perawatan terapi oksigen.
Dari 414 kasus itu, 50 di antaranya adalah kasus transmisi lokal. Selebihnya merupakan kasus impor dari pelaku perjalanan luar negeri.
“Positivity rate untuk kedatangan luar negeri adalah 13 persen, jauh di atas positivity rate transmisi lokal yang 0,2 persen. Artinya kedatangan dari luar negeri ini 65 kali lebih tinggi dibanding positivity rate transmisi lokal,” ucap menkes.
Menurutnya, terdapat empat negara sebagai ‘penyumbang’ terbesar kasus Omicron di Indonesia, yakni Arab Saudi, Turki, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab.
“Ini memperkuat hipotesa kami, sebagian besar kasus terjadi saat ini disebabkan kedatangan luar negeri,” tandasnya. (yob/ilust: ist)








