up2date.id, JAKARTA- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi tiga kasus mutasi SARS-CoV-2 Omicron dengan subvarian baru, yakni B.2.75, ditemukan di Indonesia. Ketiga kasus ini terdeteksi dari hasil pemeriksaan Whole Genome Sequences (WGS) pada 17 Juli lalu.
Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu, ketiga kasus ini merupakan kasus imported case dan lokal. Kendati demikian, Maxi belum merinci detail gejala yang dialami pasien Covid-19 tersebut.
“Sudah ada tiga kasus. Satu kasus di Bali dan dua kasus di Jakarta,” kata Maxi, sebagaimana diansir dari CNNIndonesia.com, Senin (18/7).
Subvarian omicron BA 2.75 ini sebelumnya disebut-sebut jadi biang kerok dari lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara. Para ilmuwan internasional telah menyatakan keprihatinan mereka pada varian baru yang telah muncul di beberapa negara di seluruh dunia.
Subvarian yang dijuluki ‘Centaurus’ oleh beberapa pakar ini, pertama kali terdeteksi di India pada awal Mei. Sejak itu, temuan kasus subvarian ini dilaporkan di hampir 10 negara lain, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan Kanada. Singapura pada 14 Juli lalu melaporkan temuan kasus ini.
Badan Kesehatan Dunia (WHO), juga telah mengkategorikan subvarian BA.2.75 sebagai Variant of Concern (VOC) Lineage Under Monitoring (LUM). Artinya, varian ini sedang diawasi secara ketat oleh WHO.
Sementara menurut Juru Bicara Kemenkes, Mohammad Syahril, sejauh ini belum ada kepastian tentang penularan dan berat ringannya dampak BA.2.75 serta kemungkinan kemampuan menghindar dari sistem imun seseorang.
Namun melihat sebaran dari India yang kini sudah menyebar ke lebih dari 10 negara, maka penyebaran yang cukup cepat, Syahril mengingatkan karakteristik varian Delta yang lalu. (yob/ilust: ist)








